Label

Kalau Tidak Merakyat Dikritik, Kalau Merakyat Dikomentari

Oleh: Gelar S. Ramdhani
Ditengah-tengah pemberitaan negatif yang terus menerus  membajiri negeri ini, mulai korupsi, maling sandal, dan lain sebagainya, Indonesia cukup dihebohkan dengan pemberitaan dua tokoh yang kata orang “merakyat”, mulai dari pemberitaan sang menteri BUMN (Dahlan Iskan) yang nekad naik KRL, sampai pemberitaan sang Walikota Solo (Joko Widodo) yang menggunakan mobil karya anak bangsa (Kiat Esemka)
1325873469529206419
Dahlan Iskan (Sumber: Kompas.com)
Meskipun sebagian besar masyarakat Indonesia menilai pemberitaan itu dengan positif, tapi tak sedikit juga masyarakat Indonesia yang menilai fenomena-fenomena seperti ini dengan negatif.
Ada yang bilang apa yang dilakukan Dahlan dan Joko hanya pencitraanlah, cari mukalah, kurang kerjaanlah, dan sebagainya.
Bagi saya wajarlah yang namanya juga hidup tak selamanya satu pemikiran, apalagi di negara yang demokrasi seperti di Indonesia, siapapun boleh bicara atau protes tentang apapun!
Saya sendiri merasa heran dengan bangsa ini, heran kenapa? Ketika ada pejabat yang hidupnya tidak merakyat, atau perjuangannya tidak membela kepentingan rakyat, dikritik bertubi-tubi! apalagi jika media lagi santer-santernya membahas tentang kebobrokan pemerintahan atau sendang heboh-hebohnya membahas pejabat yang goblok! pasti masyarakat langsung frustasi seolah-olah masyarakat tidak mempunyai harapan!
Tapi herannya sekali lagi mengapa kalau ada pejabat negara yang merakyat kaya dua orang tadi, masyarakat masih ada berkomentar negatif! mental bangsa ini kok seburuk itu? Menurut hemat saya harusnya orang-orang yang merakyat seperti ini harus diberikan apresiasi, supaya pejabat-pejabat yang lainnya ikut termotivasi, pencitraan, cari muka, dan lain sebagainya itu urusan belakangan. Tak masalahkan dia punya maksud pencitraan juga kalau memang integritasnya baik? yang berbahaya itu justru orang-orang yang sudah merusak negara dengan tanpa malu melakukan pencitraan pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar