Oleh: Gelar S. Ramdhani
Ditengah-tengah pemberitaan negatif yang
terus menerus membajiri negeri ini, mulai korupsi, maling sandal, dan
lain sebagainya, Indonesia cukup dihebohkan dengan pemberitaan dua tokoh
yang kata orang “merakyat”, mulai dari pemberitaan sang menteri BUMN (Dahlan Iskan) yang nekad naik KRL, sampai pemberitaan sang Walikota Solo (Joko Widodo) yang menggunakan mobil karya anak bangsa (Kiat Esemka)
- Dahlan Iskan (Sumber: Kompas.com)
Meskipun sebagian besar masyarakat
Indonesia menilai pemberitaan itu dengan positif, tapi tak sedikit juga
masyarakat Indonesia yang menilai fenomena-fenomena seperti ini dengan
negatif.
Ada yang bilang apa yang dilakukan Dahlan dan Joko hanya pencitraanlah, cari mukalah, kurang kerjaanlah, dan sebagainya.
Bagi saya wajarlah yang namanya juga
hidup tak selamanya satu pemikiran, apalagi di negara yang demokrasi
seperti di Indonesia, siapapun boleh bicara atau protes tentang apapun!
Saya sendiri merasa heran dengan bangsa
ini, heran kenapa? Ketika ada pejabat yang hidupnya tidak merakyat, atau
perjuangannya tidak membela kepentingan rakyat, dikritik bertubi-tubi!
apalagi jika media lagi santer-santernya membahas tentang kebobrokan
pemerintahan atau sendang heboh-hebohnya membahas pejabat yang goblok! pasti masyarakat langsung frustasi seolah-olah masyarakat tidak mempunyai harapan!
Tapi herannya sekali lagi mengapa kalau
ada pejabat negara yang merakyat kaya dua orang tadi, masyarakat masih
ada berkomentar negatif! mental bangsa ini kok seburuk itu? Menurut
hemat saya harusnya orang-orang yang merakyat seperti ini harus
diberikan apresiasi, supaya pejabat-pejabat yang lainnya ikut
termotivasi, pencitraan, cari muka, dan lain sebagainya itu urusan
belakangan. Tak masalahkan dia punya maksud pencitraan juga kalau memang
integritasnya baik? yang berbahaya itu justru orang-orang yang sudah
merusak negara dengan tanpa malu melakukan pencitraan pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar